Tuesday, July 31, 2012
berbagi informasi: SEJARAH DEATH METAL
berbagi informasi: SEJARAH DEATH METAL: Death metal adalah sebuah sub-genre dari musik heavy metal yang berkembang dari thrash m...
Sunday, December 11, 2011
SEJARAH DEATH METAL
Death metal adalah
sebuah sub-genre dari
musik heavy metal yang
berkembang dari thrash
metal pada awal 1980-an.
Beberapa ciri khasnya
adalah lirik lagu yang
bertemakan kekerasan atau
kematian, ritme gitar
rendah (downtuned rhythm
guitars), perkusi yang cepat,
dan intensitas dinamis.
Vokal biasanya dinyanyikan
dengan gerutuan (death
grunt) atau geraman maut
(death growl). Teknik
menyanyi seperti ini juga
sering disebut " Cookie
Monster vocals".
Beberapa pelopor genre ini
adalah Venom dengan
albumnya Welcome to Hell
( 1981) dan Death dengan
albumnya Scream Bloody
Gore (1987). Death metal
kemudian dikembangkan
lebih lanjut oleh band-band
seperti Cannibal Corpse,
Morbid Angel, Entombed,
God Macabre, Carnage, dan
Grave.
Kemudian era 2000'an,
Death Metal berkembang
sangat pesat. Banyak band-
band jebolan aliran death
metal menjadi pembaharu
dalam musik metal. Band-
band tersebut antara lain
Inhuman Dissiliency,
Disavowed, Viraemia,
Hiroshima Will Burn, Amon
Amarth, Inveracity, The
Berzeker, Dying Fetus,
Condemned, dan masih
banyak lagi.
Di Indonesia, genre ini
diawali pergerakan dan
perkembangan-nya di tahun
1990-an dengan band
thrash metal Rotor di
Jakarta. Pergerakkan utama
Death Metal Indonesia
berasal dari munculnya
inisiatif oleh band Grindcore
asal Malang, Rotten Corpse,
yang menggarap untuk
pertama kalinya (yang
diketahui) musik Death
Metal. Kemunculan dan
permainan Rotten Corpse
akan Death Metal
merupakan pertanda dari
lahirnya sebuah individu
musik baru, bernama Death
Metal.
Perkembangan musik Death
Metal di Indonesia
mengalami perkembangan
yang sangat baik.
Diantaranya terusulkannya
suatu forum pusat dari
pecinta Death Metal
Indonesia, yang bernama
forum Death Metal
Indonesia, yang bernama
Indonesian Death Metal
atau disingkat IDDM.
Kemudian juga muncul
Indogrind.net, staynocase,
dan lainnya. Saat ini, band-
band baru Death Metal
akan menyuarakan 'suara-
suara maut' dalam event
metal. Band-band Death
Metal di Indonesia sekarang
antara lain Death Sound,
Parkinson, Asphyxiate,
Bleeding Corpse, Death
Vomit, Internal Darkness,
Destruction, Kill Harmonic,
Grind Buto, Sacrament,
Infected Voice, Brain Ass,
Hatestroke, Sickmath dan
sebagainya.
Perkembangan Death Metal
Indonesia setelah
terciptanya IDDM,
merupakan sebagai indikasi
dan peresmian komunitas-
komunitas Death Metal di
seluruh wilayah Indonesia
untuk go on public atau
menunjukkan diri mereka
masing-masing pada publik.
Seperti pada saat ini, banyak
sekali kelompok komunitas
Death Metal Indonesia di
wilayah mereka masing-
masing yang sudah
menunjukkan diri mereka di
Internet. Komunitas-
komunitas tersebut masih
merupakan bagian dari
Indonesian Death Metal/
IDDM. IDDM merupakan
salah satu web penghubung
yang menjadi tempat
bertukar pikiran maupun
aspirasi hingga media untuk
iklan / promosi album
maupun merchandise.
Komunitas-komunitas
tersebut diantaranya adalah
Surabaya Death
Metal ,Malang Death Metal
Force, Bandung Death
Metal, Bekasi HORDE! Death
Metal, Jogjakarta Corpse
Grinder,Surakarta Death
Metal, West Borneo Death
Metal, Magelang Death
Metal Militia, Sukoharjo
Death Metal, Semarang
Death Metal, Bali Death
Metal sampai Samarinda
Death Metal dan masih
banyak lagi komunitas di
seluruh Indonesia.
Beberapa subgenre death
metal:
Technical death metal -
Death Metal yang
dikembangkan dengan
nada-nada diatonis,
merupakan
perkembangan dari
musik Death Metal ke
yang lebih kompleks.
Seringkali diasosiasikan
sebagai penggabungan
antara death metal
dengan progressive rock
dan jazz fusion.
Melodic death metal -
heavy metal dicampur
dengan beberapa unsur
Death Metal, misalnya
death growl dan
blastbeat
Progressive death metal -
gabungan antara death
metal dan progressive
metal
Brutal death metal -
Brutal Death Metal
merupakan
perkembangan dari
Death Metal itu sendiri.
Brutal Death Metal
merupakan salah satu
perkembangan yang
berhasil menghasilkan
perkembangan lagi di
genre Death Metal.
Brutal Death Metal
menghasilkan Slamming-
Gore Brutal Death Metal,
Slamming-Groove
Technical Brutal Death
Metal, Slamming
Goregrind, seperti
PALASIK dari bukittinggi.
Deathcore - gabungan
antara metalcore/groove
metal dengan death
metal, merupakan genre
Death Metal yang lebih
menjurus kepada musik
Post Hardcore.
Death/Doom - gabungan
antara doom metal dan
death metal
Blackened death metal -
Blackened Death Metal
merupakan usul-usul
yang dilakukan oleh
band-band Death Metal
yang ingin
menggabungkan
kembali unsur Black
Metal pada Death Metal
seperti yang terjadi pada
Era Pertama Death
Metal, di mana Death
Metal masih tercium
bau-bau Black Metal.
Sejarah Music Metal Indonesia
Sejarah Musik Indonesia
Category: Music
Embrio kelahiran scene
musik rock underground di
Indonesia sulit dilepaskan
dari evolusi rocker-rocker
pionir era 70-an sebagai
pendahulunya. Sebut saja
misalnya God Bless, Gang
Pegangsaan, Gypsy(Jakarta),
Giant Step, Super Kid
(Bandung), Terncem (Solo),
AKA/SAS (Surabaya), Bentoel
(Malang) hingga Rawe Rontek
dari Banten. Mereka inilah
generasi pertama rocker
Indonesia. Istilah
underground sendiri
sebenarnya sudah digunakan
Majalah Aktuil sejak awal era
70- an. Istilah tersebut
digunakan majalah musik
dan gaya hidup pionir asal
Bandung itu untuk
mengidentifikasi band-band
yang memainkan musik
keras dengan gaya yang
lebih ..liar’ dan ..ekstrem’
untuk ukuran jamannya.
Padahal kalau mau jujur,
lagu-lagu yang dimainkan
band- band tersebut di atas
bukanlah lagu karya mereka
sendiri, melainkan milik
band-band luar negeri
macam Deep Purple,
Jefferson Airplane, Black
Sabbath, Genesis, Led
Zeppelin, Kansas, Rolling
Stones hingga ELP. Tradisi
yang kontraproduktif ini
kemudian mencatat sejarah
namanya sempat
mengharum di pentas
nasional. Sebut saja misalnya
El Pamas, Grass Rock
(Malang), Power Metal
(Surabaya), Adi Metal Rock
(Solo), Val Halla (Medan)
hingga Roxx (Jakarta). Selain
itu Log jugalah yang
membidani lahirnya label
rekaman rock yang pertama
di Indonesia, Logiss Records.
Produk pertama label ini
adalah album
ketiga God Bless, “Semut
Hitam” yang dirilis tahun
1988 dan ludes hingga
400.000 kaset di seluruh
Indonesia.
Menjelang akhir era 80-an, di
seluruh dunia waktu itu
anak-anak muda sedang
mengalami demam musik
thrash metal. Sebuah
perkembangan style musik
metal yang lebih ekstrem lagi
dibandingkan heavy metal.
Band- band yang menjadi
gods-nya antara lain Slayer,
Metallica, Exodus, Megadeth,
Kreator, Sodom, Anthrax
hingga Sepultura.
Kebanyakan kota- kota besar
di Indonesia seperti Jakarta,
Bandung, Jogjakarta,
Surabaya, Malang hingga
Bali, scene undergroundnya
pertama kali lahir dari genre
musik ekstrem tersebut. Di
Jakarta sendiri komunitas
metal pertama kali tampil di
depan publik pada awal
tahun 1988. Komunitas anak
metal (saat itu istilah
underground belum populer)
ini biasa hang out di Pid Pub,
sebuah pub kecil di kawasan
pertokoan Pondok Indah,
Jakarta Selatan. Menurut
Krisna J. Sadrach, frontman
Sucker Head, selain
nongkrong, anak-anak yang
hang out di sana oleh Tante
Esther, owner Pid Pub, diberi
kesempatan untuk bisa
manggung di sana. Setiap
malam minggu biasanya
selalu ada live show dari
band-band baru di Pid Pub
dan kebanyakan band-band
tersebut mengusung musik
rock atau metal.
Band-band yang sering hang
out di scene Pid Pub ini
antara lain Roxx (Metallica &
Anthrax), Sucker Head
(Kreator & Sepultura),
Commotion Of Resources
(Exodus), Painfull Death,
Rotor (Kreator), Razzle
(GN’R), Parau (DRI & MOD),
Jenazah, Mortus hingga Alien
Scream (Obituary). Beberapa
band diatas pada perjalanan
berikutnya banyak yang
membelah diri menjadi
band-band baru.
Commotion Of Resources
adalah cikal bakal band gothic
metal Getah, sedangkan
Parau adalah embrio band
death metal lawas Alien
Scream. Selain itu Oddie,
vokalis Painfull Death
selanjutnya membentuk
grup industrial Sic Mynded di
Amerika Serikat bersama
Rudi Soedjarwo (sutradara
Ada Apa Dengan Cinta?).
Rotor sendiri dibentuk pada
tahun 1992 setelah cabutnya
gitaris Sucker Head, Irvan
Sembiring yang merasa
konsep musik Sucker Head
saat itu masih kurang
ekstrem baginya.
Semangat yang dibawa para
pendahulu ini memang
masih berkutat pola
tradisi ..sekolah lama’,
bangga menjadi band cover
version! Di antara mereka
semua, hanya Roxx yang
beruntung bisa rekaman
untuk single pertama
mereka, “Rock Bergema”. Ini
terjadi karena mereka adalah
salah satu finalis Festival Rock
Se-Indonesia ke-V. Mendapat
kontrak rekaman dari label
adalah obsesi yang terlalu
muluk saat itu. Jangankan
rekaman, demo rekaman
bisa diputar di radio saja
mereka sudah bahagia. Saat
itu stasiun radio yang rutin
mengudarakan musik-
musik rock/metal adalah
Radio Bahama, Radio Metro
Jaya dan Radio SK. Dari
beberapa radio tersebut
mungkin yang paling
legendaris adalah Radio
Mustang. Mereka punya
program bernama Rock N’
Rhythm yang
mengudara setiap Rabu
malam dari pukul 19.00 –
21.00 WIB. Stasiun radio ini
bahkan sempat disatroni
langsung oleh dedengkot
thrash metal Brasil,
Sepultura, kala mereka
datang ke Jakarta bulan Juni
1992. Selain medium radio,
media massa yang kerap
mengulas berita- berita rock/
metal pada waktu itu hanya
Majalah HAI, Tabloid Citra
Musik dan Majalah Vista.
Selain hang out di Pid Pub
tiap akhir pekan, anak-anak
metal ini sehari-harinya
nongkrong di pelataran
Apotik Retna yang terletak di
daerah Cilandak, Jakarta
Selatan. Beberapa selebritis
muda yang dulu sempat
nongkrong bareng
(groupies?) anak-anak metal
ini antara lain Ayu Azhari,
Cornelia Agatha, Sophia
Latjuba, Karina Suwandi
hingga Krisdayanti. Aktris
Ayu Azhari sendiri bahkan
sempat dipersunting sebagai
istri oleh (alm) Jodhie
Gondokusumo yang
merupakan vokalis Getah
dan juga
mantan vokalis Rotor.
Tak seberapa jauh dari
Apotik Retna, lokasi lain yang
sering dijadikan lokasi
rehearsal adalah Studio One
Feel yang merupakan studio
latihan paling legendaris dan
bisa dibilang hampir semua
band- band rock/metal lawas
ibukota pernah rutin berlatih
di sini. Selain Pid Pub, venue
alternatif tempat band-band
rock underground
manggung pada masa itu
adalah Black Hole dan
restoran Manari Open Air di
Museum Satria Mandala (cikal
bakal Poster Café). Diluar itu,
pentas seni MA dan acara
musik kampus sering kali
pula di “infiltrasi” oleh band-
band metal tersebut.
Beberapa pensi yang
historikal di antaranya adalah
Pamsos (SMA 6 Bulungan),
PL Fair (SMA
Pangudi Luhur), Kresikars
(SMA 82), acara musik
kampus Universitas
Nasional (Pejaten),
Universitas Gunadarma,
Universitas Indonesia
(Depok), Unika Atmajaya
Jakarta, Institut Teknologi
Indonesia (Serpong) hingga
Universitas Jayabaya
(Pulomas).
Berkonsernya dua supergrup
metal internasional di
Indonesia, Sepultura (1992)
dan Metallica (1993) memberi
kontribusi cukup besar bagi
perkembangan band-band
metal sejenis di Indonesia.
Tak berapa lama setelah
Sepultura sukses
“membakar” Jakarta dan
Surabaya, band speed metal
Roxx merilis album debut
self-titled mereka di bawah
label Blackboard. Album
kaset ini kelak menjadi salah
satu album speed metal
klasik Indonesia era 90-an.
Hal yang sama dialami pula
oleh Rotor. Sukses
membuka konser fenomenal
Metallica selama dua hari
berturut-turut di Stadion
Lebak Bulus, Rotor lantas
merilis album thrash metal
major labelnya yang
pertama di Indonesia, Behind
The 8th Ball (AIRO).
Bermodalkan rekomendasi
dari manajer tur Metallica dan
honor 30 juta rupiah hasil
dua kali membuka konser
Metallica, para personel Rotor
(minus drummer Bakkar
Bufthaim) lantas eksodus ke
negeri Paman Sam untuk
mengadu nasib. Sucker Head
sendiri tercatat paling telat
dalam merilis album debut
dibanding band
seangkatan mereka lainnya.
Setelah dikontrak major label
lokal, Aquarius
Musikindo, baru di awal 1995
mereka merilis album ..The
Head Sucker’. Hingga kini
Sucker Head tercatat sudah
merilis empat buah album.
Dari sedemikian panjangnya
perjalanan rock underground
di tanah air, mungkin baru di
paruh pertama dekade 90-
anlah mulai banyak terbentuk
scene-scene underground
dalam arti sebenarnya di
Indonesia. Di Jakarta sendiri
konsolidasi scene metal
secara masif berpusat di Blok
M sekitar awal 1995. Kala itu
sebagian anak-anak metal
sering
terlihat nongkrong di lantai 6
game center Blok M Plaza
dan di sebuah resto waralaba
terkenal di sana. Aktifitas
mereka selain hang out
adalah bertukar informasi
tentang band-band lokal
daninternasional, barter CD,
jual-beli t-shirt metal hingga
merencanakan
pengorganisiran konser.
Sebagian lagi yang lainnya
memilih hang out di
basement Blok Mall yang
kebetulan letaknya berada di
bawah tanah.
Pada era ini hype musik
metal yang masif
digandrungi adalah subgenre
yang makin ekstrem yaitu
death metal, brutal death
metal, grindcore, black metal
hingga gothic/doom metal.
Beberapa band yang makin
mengkilap namanya di era ini
adalah Grausig, Trauma,
Aaarghhh, Tengkorak,
Delirium Tremens,
Corporation of Bleeding,
Adaptor, Betrayer, Sadistis,
Godzilla dan sebagainya.
Band grindcore Tengkorak
pada tahun 1996 malah
tercatat sebagai band yang
pertama kali merilis mini
album secara independen di
Jakarta dengan judul ..It’s A
Proud To Vomit Him’.
Album ini direkam secara
profesional di Studio Triple
M, Jakarta dengan sound
engineer Harry Widodo
(sebelumnya pernah
menangani album Roxx,
Rotor, Koil, Puppen dan
PAS).
Tahun 1996 juga sempat
mencatat kelahiran fanzine
musik underground pertama
di Jakarta, Brainwashed zine.
Edisi pertama Brainwashed
terbit 24 halaman dengan
menampilkan cover Grausig
dan profil band Trauma,
Betrayer serta Delirium
Tremens. Di ketik di
komputer berbasis system
operasi Windows 3.1 dan
lay-out cut n’ paste
tradisional, Brainwashed
kemudian diperbanyak 100
eksemplar dengan mesin
foto kopi milik saudara
penulis sendiri. Di edisi-edisi
berikutnya Brainwashed
mengulas pula band-band
hardcore, punk bahkan ska.
Setelah terbit fotokopian
hingga empat edisi, di tahun
1997 Brainwashed sempat
dicetak ala majalah
profesional dengan cover
penuh warna. Hingga tahun
1999 Brainwashed hanya
kuat terbit hingga tujuh edisi,
sebelum akhirnya di tahun
2000 penulis menggagas
format e-zine di internet
(www.bisik.com). Media-
media serupa yang
selanjutnya lebih konsisten
terbit di Jakarta antara lain
Morbid Noise zine, Gerilya
zine, Rottrevore zine, Cosmic
zine dan
sebagainya.
29 September 1996
menandakan dimulainya
sebuah era baru bagi
perkembangan rock
underground di Jakarta.
Tepat pada hari itulah digelar
acara musik indie untuk
pertama kalinya di Poster
Café. Acara bernama
“Underground Session” ini
digelar tiap dua minggu
sekali pada malam hari kerja.
Café legendaris yang dimiliki
rocker gaek
Ahmad Albar ini banyak
melahirkan dan
membesarkan scene musik
indie baru yang memainkan
genre musik berbeda dan
lebih variatif. Lahirnya scene
Brit/indie pop, ledakan musik
ska yang fenomenal era 1997
– 2000 sampai tawuran
massal bersejarah antara
sebagian kecil massa Jakarta
dengan Bandung terjadi juga
di tempat ini. Getah,
Brain The Machine,
Stepforward, Dead Pits,
Bloody Gore, Straight
Answer, Frontside, RU
Sucks, Fudge, Jun Fan Gung
Foo, Be Quiet, Bandempo,
Kindergarten, RGB, Burning
Inside, Sixtols, Looserz, HIV,
Planet Bumi, Rumahsakit,
Fable, Jepit Rambut, Naif,
Toilet Sounds, Agus
Sasongko & FSOP adalah
sebagian kecil band-band
yang ..kenyang’ manggung
di sana.
10 Maret 1999 adalah hari
kematian scene Poster Café
untuk selama- lamanya.
Pada hari itu untuk terakhir
kalinya diadakan acara musik
di sana (Subnormal
Revolution) yang berujung
kerusuhan besar antara
massa punk dengan warga
sekitar hingga berdampak
hancurnya beberapa mobil
dan unjuk giginya aparat
kepolisian dalam
membubarkan massa.
Bubarnya Poster Café diluar
dugaan malah banyak
melahirkan venue- venue
alternatif bagi masing-
masing scene musik indie.
Café Kupu- Kupu di
Bulungan sering digunakan
scene musik ska, Pondok
Indah Waterpark, GM 2000
café dan Café Gueni di Cikini
untuk scene Brit/indie pop,
Parkit De Javu Club di
Menteng untuk gigs punk/
hardcore dan juga indie pop.
Belakangan BB’s Bar yang
super- sempit di Menteng
sering disewa untuk acara
garage rock-new wave-
mellow punk juga rock yang
kini sedang hot, seperti The
Upstairs, Seringai, The
Brandals, C’mon Lennon,
Killed By Butterfly, Sajama
Cut,
Devotion dan banyak lagi. Di
antara semuanya, mungkin
yang paling ..netral’ dan
digunakan lintas-scene cuma
Nirvana Café yangterletak di
basement Hotel Maharadja,
Jakarta Selatan. Di tempat ini
pulalah, 13 Januari 2002
silam, Puppen ..menghabisi
riwayat’ mereka dalam
sebuah konser bersejarah
yang berjudul, “Puppen :
Last Show Ever”, sebuah
rentetan show akhir band
Bandung ini sebelum
membubarkan diri.
Scene Punk/Hardcore/Brit/
Indie Pop
Invasi musik grunge/
alternative dan dirilisnya
album Kiss This dari Sex
Pistols pada tahun 1992
ternyata cukup menjadi
trigger yang ampuh dalam
melahirkan band-band baru
yang tidak memainkan
musik metal. Misalnya saja
band Pestol Aer dari
komunitas Young Offender
yang diawal kiprahnya sering
meng-cover lagu-lagu Sex
Pistols lengkap dengan
dress-up punk dan haircut
mohawknya. Uniknya, pada
perjalanan selanjutnya,
sekitar tahun 1994, Pestol
Aer kemudian mengubah
arah musik mereka menjadi
band yang mengusung
genre british/indie pop ala
The Stone Roses. Konon,
peristiwa historik ini
kemudian menjadi momen
yang cukup signifikan bagi
perkembangan scene british/
indie pop di Jakarta. Sebelum
bubar, di pertengahan 1997
mereka sempat merilis
album debut bertitel ..…Jang
Doeloe’. Generasi awal dari
scene brit pop ini antara lain
adalah band Rumahsakit,
Wondergel, Planet Bumi,
Orange, Jellyfish, Jepit
Rambut, Room-V,
Parklife hingga Death Goes
To The Disco.
Pestol Aer memang bukan
band punk pertama, ibukota
ini di tahun 1989 sempat
melahirkan band punk/
hardcore pionir Antiseptic
yang kerap memainkan
nomor-nomor milik Black
Flag, The Misfits, DRI sampai
Sex Pistols. Lukman (Waiting
Room/The Superglad) dan
Robin (Sucker Head/Noxa)
adalah alumnus band ini
juga. Selain sering
manggung di Jakarta,
Antiseptic juga sempat
manggung di rockfest
legendaris Bandung,
Hullabaloo II pada akhir 1994.
Album debut Antiseptic
sendiri yang bertitel ..Finally’
baru rilis delapan tahun
kemudian (1997) secara
D.I.Y. Ada juga band
alternatif seperti Ocean yang
memainkan musik ala Jane’s
Addiction dan lainnya,
sayangnya mereka tidak
sempat merilis rekaman.
Selain itu, di awal 1990,
Jakarta juga mencetak band
punk rock The Idiots yang
awalnya sering manggung
meng-cover lagu-lagu The
Exploited. Nggak jauh
berbeda dengan Antiseptic,
baru sembilan tahun
kemudian The Idiots merilis
album debut mereka yang
bertitel ..Living Comfort In
Anarchy’ via label indie
Movement Records.
Komunitas-
komunitas punk/hardcore
juga menjamur di Jakarta
pada era 90-an tersebut.
Selain komunitas Young
Offender tadi, ada pula
komunitas South Sex (SS) di
kawasan Radio Dalam,
Subnormal di Kelapa Gading,
Semi-People di Duren Sawit,
Brotherhood di Slipi, Locos di
Blok M hingga SID Gank di
Rawamangun.
Sementara rilisan klasik dari
scene punk/hardcore Jakarta
adalah album kompilasi Walk
Together, Rock Together
(Locos Enterprise) yang rilis
awal 1997 dan memuat
singel antara lain dari band
Youth Against Fascism, Anti
Septic, Straight Answer,
Dirty Edge dan sebagainya.
Album kompilasi punk/
hardcore klasik lainnya
adalah Still One, Still Proud
(Movement Records) yang
berisikan singel dari Sexy Pig,
The Idiots, Cryptical Death
hingga Out Of Control.
Bandung scene
Di Bandung sekitar awal 1994
terdapat studio musik
legendaris yang menjadi cikal
bakal scene rock
underground di sana.
Namanya Studio Reverse
yang terletak di daerah
Sukasenang. Pembentukan
studio ini digagas oleh
Richard Mutter (saat itu
drummer PAS) dan Helvi.
Ketika semakin berkembang
Reverse lantas melebarkan
sayap bisnisnya dengan
membuka distro (akronim
dari distribution) yang
menjual CD, kaset, poster, t-
shirt, serta berbagai
aksesoris import lainnya.
Selain distro, Richard juga
sempat membentuk label
independen 40.1.24 yang
rilisan pertamanya di tahun
1997 adalah kompilasi CD
yang bertitel
“Masaindahbangetsekalipisan.”
Band-band indie yang ikut
serta di kompilasi ini antara
lain adalah Burger Kill,
Puppen, Papi, Rotten To The
Core, Full of Hate dan
Waiting Room, sebagai satu-
satunya band asal Jakarta.
Band-band yang sempat
dibesarkan oleh komunitas
Reverse ini antara lain PAS
dan Puppen. PAS sendiri di
tahun 1993 menorehkan
sejarah sebagai band
Indonesia yang pertama kali
merilis album secara
independen. Mini album
mereka yang bertitel “Four
Through The S.A.P” ludes
terjual 5000 kaset dalam
waktu yang cukup singkat.
Mastermind yang melahirkan
ide merilis album PAS secara
independen tersebut adalah
(alm) Samuel Marudut. Ia
adalah Music Director Radio
GMR, sebuah stasiun radio
rock pertama di Indonesia
yang kerap memutar demo-
demo rekaman band-band
rock amatir asal Bandung,
Jakarta dan sekitarnya.
Tragisnya, di awal 1995
Marudut ditemukan tewas
tak bernyawa di kediaman
Krisna Sucker Head di
Jakarta. Yang mengejutkan,
kematiannya ini, menurut
Krisna, diiringi lagu The End
dari album Best of The Doors
yang diputarnya pada tape di
kamar Krisna. Sementara itu
Puppen yang dibentuk pada
tahun 1992 adalah salah satu
pionir hardcore lokal yang
hingga akhir hayatnya di
tahun 2002 sempat merilis
tiga album yaitu, Not A Pup
E.P. (1995), MK II (199
Puppen s/t (2000). Kemudian
menyusul Pure Saturday
dengan albumnya yang self-
titled. Album ini kemudian
dibantu promosinya oleh
Majalah Hai. Kubik juga
mengalami hal yang sama,
dengan cara bonus kaset 3
lagu sebelum rilis albumnya.
Agak ke timur, masih di
Bandung juga, kita akan
menemukan sebuah
komunitas yang menjadi
episentrum underground
metal di sana, komunitas
Ujung Berung. Dulunya di
daerah ini sempat berdiri
Studio Palapa yang banyak
berjasa membesarkan band-
band underground cadas
macam Jasad, Forgotten,
Sacrilegious, Sonic Torment,
Morbus Corpse, Tympanic
Membrane, Infamy, Burger
Kill dan sebagainya. Di sinilah
kemudian pada awal 1995
terbit fanzine musik pertama
di Indonesia yang bernama
Revograms Zine. Editornya
Dinan, adalah vokalis band
Sonic Torment yang
memiliki single unik berjudul
“Golok Berbicara”.
Revograms Zine tercatat
sempat tiga kali terbit dan
kesemua materi isinya
membahas band-band
metal/hardcore lokal
maupun internasional.
Kemudian taklama kemudian
fanzine indie seperti Swirl,
Tigabelas, Membakar Batas
dan yang lainnya ikut
meramaikan media indie.
Ripple dan Trolley muncul
sebagai majalah yang
membahas kecenderungan
subkultur Bandung dan jug
lifestylenya. Trolley bangkrut
tahun 2002, sementara
Ripple berubah dari pocket
magazine ke format majalah
standar. Sementara fanzine
yang umumnya fotokopian
hingga kini masih terus eksis.
Serunya di Bandung tak
hanya musik ekstrim yang
maju tapi juga scene indie
popnya. Sejak Pure Saturday
muncul, berbagai band indie
pop atau alternatif, seperti
Cherry Bombshell, Sieve,
Nasi Putih hingga yang
terkini seperti The Milo,
Mocca, Homogenic. Begitu
pula scene ska yang
sebenarnya sudah ada jauh
sebelum trend ska besar.
Band seperti Noin Bullet dan
Agent Skins sudah lama
mengusung genre musik ini.
Siapapun yang pernah
menyaksikan konser rock
underground di Bandung
pasti takkan melupakan GOR
Saparua yang terkenal
hingga ke berbagai pelosok
tanah air. Bagi band-band
indie, venue ini laksana
gedung keramat yang penuh
daya magis. Band luar
Bandung manapun kalau
belum di ..baptis’ di sini
belum afdhal rasanya.
Artefak subkultur bawah
tanah Bandung paling
legendaris ini adalah saksi
bisu digelarnya beberapa
rock show fenomenal seperti
Hullabaloo, Bandung Berisik
hingga Bandung
Underground. Jumlah
penonton setiap acara-acara
di atas tergolong spektakuler,
antara 5000 – 7000
penonton! Tiket masuknya
saja sampai diperjualbelikan
dengan harga fantastis segala
oleh para calo. Mungkin ini
merupakan rekor tersendiri
yang belum terpecahkan
hingga saat ini di Indonesia
untuk ukuran rock show
underground.
Sempat dijuluki sebagai
barometer rock
underground di Indonesia,
Bandung memang
merupakan kota yang
menawarkan sejuta
gagasan-gagasan cerdas
bagi kemajuan scene
nasional. Booming distro
yang melanda seluruh
Indonesia saat ini juga
dipelopori oleh kota ini.
Keberhasilan menjual album
indie hingga puluhan ribu
keping yang dialami band
Mocca juga berawal dari kota
ini. Bahkan Burger Kill, band
hardcore Indonesia yang
pertama kali teken kontrak
dengan major label, Sony
Music Indonesia, juga
dibesarkan di kota ini. Belum
lagi majalah Trolley (RIP) dan
Ripple yang seakan menjadi
reinkarnasi Aktuil di jaman
sekarang, tetap loyal
memberikan porsi terbesar
liputannya bagi band-band
indie lokal keren macam Koil,
Kubik, Balcony, The
Bahamas, Blind To See,
Rocket Rockers, The Milo,
Teenage Death Star,
Komunal hingga The
S.I.G.I.T. Coba cek webzine
Bandung, Death Rock Star
(www.deathrockstar.tk)
untuk membuktikannya. Asli,
kota yang satu ini memang
nggak ada matinya!
Scene Jogjakarta
Kota pelajar adalah julukan
formalnya, tapi siapa sangka
kalau kota ini ternyata juga
menjadi salah satu scene
rock underground terkuat di
Indonesia? Well, mari kita
telusuri sedikit sejarahnya.
Komunitas metal
underground Jogjakarta
salah satunya adalah Jogja
Corpsegrinder. Komunitas ini
sempat menerbitkan fanzine
metal Human Waste,
majalah Megaton dan
menggelar acara metal
legendaris di sana, Jogja
Brebeg. Hingga kini acara
tersebut sudah terselenggara
sepuluh kali! Band-band
metal underground lawas
dari kota ini antara lain Death
Vomit, Mortal Scream,
Impurity, Brutal Corpse,
Mystis, Ruction.
Untuk scene punk/hardcore/
industrial-nya yang bangkit
sekitar awal 1997 tersebutlah
nama Sabotage, Something
Wrong, Noise For Violence,
Black Boots, DOM 65,
Teknoshit hingga yang paling
terkini, Endank Soekamti.
Sedangkan untuk scene indie
rock/pop, beberapa nama
yang patut di highlight adalah
Seek Six Sick, Bangkutaman,
Strawberry’s Pop sampai
The Monophones. Selain itu,
band ska paling keren yang
pernah terlahir di Indonesia,
Shaggy Dog, juga berasal
dari kota ini. Shaggy Dog
yang kini dikontrak EMI
belakangan malah sedang
asyik menggelar tur konser
keliling Eropa selama 3 bulan!
Kota gudeg ini tercatat juga
pernah menggelar
Parkinsound, sebuah festival
musik elektronik yang
pertama di Indonesia.
Parkinsound 3 yang
diselenggarakan tanggal 6 Juli
2001 silam di antaranya
menampilkan Garden Of The
Blind, Mock Me Not,
Teknoshit, Fucktory,
Melancholic Bitch hingga
Mesin Jahat.
Scene Surabaya
Scene underground rock di
Surabaya bermula dengan
semakin tumbuh-
berkembangnya band-band
independen beraliran death
metal/grindcore sekitar
pertengahan tahun 1995.
Sejarah terbentuknya
berawal dari event Surabaya
Expo (semacam Jakarta Fair
di DKI – Red) dimana band-
band underground metal
seperti, Slowdeath, Torture,
Dry, Venduzor, Bushido
manggung di sebuah acara
musik di event tersebut.
Setelah event itu masing-
masing band tersebut
kemudian sepakat untuk
mendirikan sebuah
organisasi yang bernama
Independen. Base camp dari
organisasi yang tujuan
dibentuknya sebagai wadah
pemersatu serta sarana
sosialisasi informasi antar
musisi/band underground
metal ini waktu itu
dipusatkan di daerah Ngagel
Mulyo atau tepatnya di studio
milik band Retri Beauty (band
death metal dengan semua
personelnya cewek, kini RIP
– Red). Anggota dari
organisasi yang merupakan
cikal bakal terbentuknya
scene underground metal di
Surabaya ini memang
sengaja dibatasi hanya
sekitar 7-10 band saja.
Rencana pertama
Independen waktu itu adalah
menggelar konser
underground rock di Taman
Remaja, namun rencana ini
ternyata gagal karena
kesibukan melakukan
konsolidasi di dalam scene.
Setelah semakin jelas dan
mulai berkembangnya scene
underground metal di
Surabaya pada akhir bulan
Desember 1997 organisasi
Independen resmi
dibubarkan. Upaya ini
dilakukan demi memperluas
jaringan agar semakin tidak
tersekat-sekat atau menjadi
terkotak-kotak
komunitasnya.
Pada masa-masa terakhir
sebelum bubarnya
organisasi Independen, divisi
record label mereka tercatat
sempat merilis beberapa
buah album milik band-band
death metal/grindcore
Surabaya. Misalnya debut
album milik Slowdeath yang
bertitel “From Mindless
Enthusiasm to Sordid Self-
Destruction” (September 96),
debut album Dry berjudul
“Under The Veil of
Religion” (97), Brutal Torture
“Carnal Abuse”, Wafat
“Cemetery of Celerage”
hingga debut album milik
Fear Inside
yang bertitel
“Mindestruction”. Tahun-
tahun berikutnya barulah
underground metal di
Surabaya dibanjiri oleh
rilisan-rilisan album milik
Growl, Thandus, Holy
Terror, Kendath hingga
Pejah.
Sebagai ganti Independen
kemudian dibentuklah
Surabaya Underground
Society (S.U.S) tepat di
malam tahun baru 1997 di
kampus Universitas 45, saat
diselenggarakannya event
AMUK I. Saat itu di Surabaya
juga telah banyak
bermunculan band-band
baru dengan aliran musik
black metal. Salah satu band
death metal lama yaitu, Dry
kemudian berpindah konsep
musik seiring dengan
derasnya pengaruh musik
black metal di Surabaya kala
itu.
Hanya bertahan kurang lebih
beberapa bulan saja, S.U.S di
tahun yang sama dilanda
perpecahan di dalamnya.
Band-band yang beraliran
black metal kemudian
berpisah untuk membentuk
sebuah wadah baru
bernama ARMY OF
DARKNESS yang memiliki
basis lokasi di daerah Karang
Rejo. Berbeda dengan black
metal, band-band death
metal selanjutnya
memutuskan tidak ikut
membentuk organisasi baru.
Selanjutnya di bulan
September 1997 digelar
event AMUK II di IKIP
Surabaya. Event ini
kemudian mencatat sejarah
sendiri sebagai event paling
sukses di Surabaya kala itu.
25 band death metal dan
black metal tampil sejak pagi
hingga sore hari dan
ditonton oleh kurang lebih
800 – 1000 orang. Arwah,
band black metal asal Bekasi
juga turut tampil di even
tersebut sebagai band
undangan.
Scene ekstrem metal di
Surabaya pada masa itu lebih
banyak didominasi oleh
band-band black metal
dibandingkan band death
metal/grindcore. Mereka juga
lebih intens dalam menggelar
event-event musik black
metal karena banyaknya
jumlah band black metal
yang muncul. Tercatat
kemudian event black metal
yang sukses digelar di
Surabaya seperti ARMY OF
DARKNESS I dan II.
Tepat tanggal 1 Juni 1997
dibentuklah komunitas
underground INFERNO 178
yang markasnya terletak di
daerah Dharma Husada (Jl.
Prof. DR. Moestopo,Red). Di
tempat yang agak mirip
dengan rumah-toko (Ruko)
ini tercatat ada beberapa
divisi usaha yaitu, distro,
studio musik, indie label,
fanzine, warnet dan event
organizer untuk acara-acara
underground di Surabaya.
Event-event yang pernah di
gelar oleh INFERNO 178
antara lain adalah, STOP THE
MADNESS, TEGANGAN
TINGGI I & II hingga
BLUEKHUTUQ LIVE.
Band-band underground
rock yang kini bernaung di
bawah bendera INFERNO 178
antara lain, Slowdeath, The
Sinners, Severe Carnage,
System Sucks, Freecell,
Bluekuthuq dan sebagainya.
Fanzine metal asal komunitas
INFERNO 178, Surabaya
bernama POST MANGLED
pertama kali terbit kala itu di
event TEGANGAN TINGGI I di
kampus Unair dengan
tampilnya band-band punk
rock dan metal. Acara ini
tergolong kurang sukses
karena pada waktu yang
bersamaan juga digelar
sebuah event black metal.
Sayangnya, hal ini juga
diikuti dengan mandegnya
proses penggarapan POST
MANGLED Zine yang tidak
kunjung mengeluarkan
edisinya yang terbaru hingga
kini.
Maka, untuk mengantisipasi
terjadinya stagnansi atau
kesenjangan informasi di
dalam scene, lahirlah
kemudian GARIS KERAS
Newsletter yang terbit
pertama kali bulan Februari
1999. Newsletter dengan
format fotokopian yang
memiliki jumlah 4 halaman
itu banyak mengulas
berbagai aktivitas musik
underground metal, punk
hingga HC tak hanya di
Surabaya saja tetapi lebih
luas lagi. Respon positif pun
menurut mereka lebih
banyak datang justeru dari
luar kota Surabaya itu
sendiri. Entah mengapa,
menurut mereka publik
underground rock di
Surabaya kurang apresiatif
dan minim dukungannya
terhadap publikasi
independen macam fanzine
atau newsletter tersebut.
Hingga akhir hayatnya GARIS
KERAS Newsletter telah
menerbitkan edisinya hingga
ke- 12.
Divisi indie label dari
INFERNO 178 paling tidak
hingga sekitar 10 rilisan
album masih tetap
menggunakan nama
Independen sebagai nama
label mereka. Baru
memasuki tahun 2000 yang
lalu label INFERNO 178
Productions resmi
memproduksi album band
punk tertua di Surabaya, The
Sinners yang berjudul
“Ajang Kebencian”.
Selanjutnya label
INFERNO 178 ini akan lebih
berkonsentrasi untuk merilis
produk- produk berkategori
non-metal. Sedangkan untuk
label khusus death metal/
brutal death/grindcore
dibentuklah kemudian
Bloody Pigs Records oleh
Samir (kini gitaris
TENGKORAK) dengan album
kedua Slowdeath yang
bertitel “Propaganda” sebagai
proyek pertamanya yang
dibarengi pula dengan
menggelar konser promo
tunggal Slowdeath di Café
Flower sekitar bulan
September 2000 lalu yang
dihadiri oleh 150- an
penonton. Album ini sempat
mencatat sold out walau
masih dalam jumlah terbatas
saja. Ludes 200 keping tanpa
sisa.
Scene Malang
Kota berhawa dingin yang
ditempuh sekitar tiga jam
perjalanan dari Surabaya ini
ternyata memiliki scene rock
underground yang “panas”
sejak awal dekade 90-an.
Tersebutlah nama Total
Suffer Community(T.S.C)
yang menjadi motor
penggerak bagi kebangkitan
komunitas rock
underground di Malang sejak
awal 1995. Anggota
komunitas ini terdiri dari
berbagai macam musisi
lintas-scene, namun
dominasinya tetap
saja anak-anak metal. Konser
rock underground yang
pertama kali digelar di kota
Malang diorganisir pula oleh
komunitas ini. Acara bertajuk
Parade Musik Underground
tersebut digelar di Gedung
Sasana Asih YPAC pada
tanggal 28 Juli 1996 dengan
menampilkan band-band
lokal Malang seperti Bangkai
(grindcore), Ritual Orchestra
(black metal),Sekarat (death
metal), Knuckle Head (punk/
hc), Grindpeace (industrial
death metal), No Man’s Land
(punk), The Babies (punk)
dan juga band-band asal
Surabaya, Slowdeath
(grindcore) serta The Sinners
(punk).
Beberapa band Malang
lainnya yang patut di beri
kredit antara lain Keramat,
Perish, Genital Giblets,
Santhet dan tentunya Rotten
Corpse. Band yang terakhir
disebut malah menjadi
pelopor style brutal death
metal di Indonesia. Album
debut mereka yang
bertitel “Maggot Sickness”
saat itu menggemparkan
scene metal di Jakarta,
Bandung, Jogjakarta dan Bali
karena komposisinya yang
solid dan kualitas
rekamannya yang top notch.
Belakangan band ini pecah
menjadi dua dan salah satu
gitaris sekaligus pendirinya,
Adyth, hijrah ke Bandung
dan membentuk Disinfected.
Di kota inilah lahir untuk
kedua kalinya fanzine musik
di Indonesia. Namanya
Mindblast zine yang
diterbitkan oleh dua orang
scenester, Afril dan Samack
pada akhir 1995. Afril sendiri
merupakan eks-vokalis band
Grindpeace yang kini eksis di
band crust-grind gawat,
Extreme Decay. Sementara
indie label pionir yang hingga
kini masih bertahan serta
tetap produktif merilis album
di Malang adalah Confused
Records
Scene Bali
Berbicara scene
underground di Bali kembali
kita akan menemukan
komunitas metal sebagai
pelopornya. Penggerak
awalnya adalah komunitas
1921 Bali Corpsegrinder di
Denpasar. Ikut eksis di
dalamnya antara lain, Dede
Suhita, Putra Pande, Age
Grindcorner dan Sabdo
Moelyo. Dede adalah editor
majalah metal Megaton yang
terbit di
Jogjakarta, Putra Pande
adalah salah satu pionir
webzine metal Indonesia
Corpsegrinder (kini Anorexia
Orgasm) sejak 1998, Age
adalah pengusaha distro
yang pertama di Bali dan
Moel adalah gitaris/vokalis
band death metal etnik,
Eternal Madness yang aktif
menggelar konser
underground di sana. Nama
1921 sebenarnya diambil dari
durasi siaran program musik
metal mingguan di Radio
Cassanova, Bali yang
berlangsung dari pukul 19.00
hingga 21.00 WITA.
Awal 1996 komunitas ini
pecah dan masing-masing
individunya jalan sendiri-
sendiri. Moel bersama EM
Enterprise pada tanggal 20
Oktober 1996 menggelar
konser underground besar
pertama di Bali bernama
Total Uyut di GOR Ngurah
Rai, Denpasar. Band-band
Bali yang tampil diantaranya
Eternal Madness, Superman
Is Dead, Pokoke, Lithium,
Triple Punk, Phobia,
Asmodius hingga Death
Chorus. Sementara band-
band luar Balinya adalah
Grausig, Betrayer (Jakarta),
Jasad, Dajjal, Sacrilegious,
Total Riot (Bandung) dan
Death Vomit (Jogjakarta).
Konser ini sukses menyedot
sekitar 2000 orang penonton
dan hingga sekarang
menjadi festival rock
underground tahunan di
sana. Salah satu
alumni Total Uyut yang
sekarang sukses besar ke
seantero nusantara adalah
band punk asal Kuta,
Superman Is Dead. Mereka
malah menjadi band punk
pertama di Indonesia yang
dikontrak 6 album oleh Sony
Music Indonesia. Band-band
indie Bali masa kini yang
stand out di antaranya adalah
Navicula, Postmen, The
Brews, Telephone, Blod Shot
Eyes
dan tentu saja Eternal
Madness yang tengah
bersiap merilis album ke tiga
mereka dalam waktu dekat.
Memasuki era 2000-an scene
indie Bali semakin
menggeliat. Kesuksesan S.I.D
memberi inspirasi bagi band-
band Bali lainnya untuk
berusaha lebih keras lagi, toh
S.I.D secara konkret sudah
membuktikan kalau
band ..putera daerah’ pun
sanggup menaklukan
kejamnya industri musik
ibukota. Untuk mendukung
band-band Bali, drummer
S.I.D, Jerinx dan beberapa
kawannya kemudian
membuka The Maximmum
Rock N’ Roll Monarchy (The
Max), sebuah pub musik
yang berada di jalan Poppies,
Kuta. Seringkali diadakan
acara rock reguler di tempat
ini.
Indie Indonesia Era 2000-an
Bagaimana pergerakan scene
musik independen Indonesia
era 2000-an? Kehadiran
teknologi internet dan e-mail
jelas memberikan kontribusi
besar bagi perkembangan
scene ini. Akses informasi
dan komunikasi yang
terbuka lebar membuat
jaringan (networking) antar
komunitas ini semakin luas di
Indonesia. Band-band dan
komunitas-komunitas baru
banyak bermunculan dengan
menawarkan style musik
yang lebih beragam. Trend
indie label berlomba-lomba
merilis album band-band
lokal juga menggembirakan,
minimal ini adalah upaya
pendokumentasian sejarah
yang berguna puluhan tahun
ke depan.
Yang menarik sekarang
adalah dominasi penggunaan
idiom ..indie’ dan bukan
underground untuk
mendefinisikan sebuah scene
musik non- mainstream
lokal. Sempat terjadi polemik
dan perdebatan
klasikmengenai istilah ..indie
atau underground’ ini di
tanah air. Sebagian orang
memandang
istilah ..underground’
semakin bias karena
kenyataannya kian hari
semakin banyak band-band
underground yang ..sell-out’,
entah itu dikontrak major
label, mengubah style musik
demi kepentingan bisnis atau
laris manis menjual album
hingga puluhan ribu keping.
Sementara sebagian lagi lebih
senang menggunakan idiom
indie karena lebih ..elastis’
dan misalnya, lebih friendly
bagi band-band yang
memang tidak memainkan
style musik ekstrem.
Walaupun terkesan lebih
kompromis, istilah indie ini
belakangan juga semakin
sering digunakan oleh media
massa nasional, jauh
meninggalkan istilah
ortodoks ..underground’ itu
tadi.
Ditengah serunya perdebatan
indie/underground, major
label atau indie label, ratusan
band baru terlahir, puluhan
indie label ramai- ramai
merilis album, ribuan distro/
clothing shop dibuka di
seluruh Indonesia.
Infrastruktur scene musik
non-mainstream ini pun kian
established dari hari ke hari.
Mereka seakan tidak peduli
lagi dengan polarisasi indie-
major label yang makin tidak
substansial. Bermain musik
sebebas mungkin sembari
bersenang-senang lebih
menjadi ..panglima’ sekarang
ini.
Subscribe to:
Posts (Atom)
